W.S. RENDRA

turut berdukacita

atas wafat-nya
budayawan~
W.S. RENDRA
(maestro-teater-Indonesia)

Kamis, 01 April 2010

musikalisasi-puisi

SEJARAH
PERKEMBANGAN MUSIKALISASI PUISI
DI INDONESIA



Bicara masalah musik puisi, kita dihadapkan pada persoalan pengertian musik itu sendiri, musik yang dipuisikan atau puisi yang dimusikkan? mana yang tercipta lebih dahulu lagu atau syairnya., lagu yang tercipta dahulu baru diisi dengan syair puisi, ada yang puisinya tenar dahulu baru dimusikalisasi. Namun kebanyakan musik puisi adalah puisi dahulu baru dimusikalisasi, puisi ditulis oleh penyair kemudian dibaca, ditafsirkan, dan dihayati kemudian penyampaian penafsiran dan penghayatan dilakukan melalui serangkaian nada, jadilah lagu. Namun beberapa puisi mempunyai ritme yang alami, mampu menghasilkan bunyi, memiliki intonasi nada seperti karya-karya Sutardji C. Bachri. Seandainya karya Sutarji tidak diperhitungkan intonasinya akan berkurang dalam penafsiran dan penghayatan karyanya.

Musik puisi pernah menghias jagat musik era 70-an di Indonesia. Beberapa seniman mencoba untuk memusikalisasikan puisi antara lain, puisi Sanusi Pane, Chairil Anwar, Kirdjomulyo, Ramadhan K.H. Karya sastra tersebut digubah menjadi lagu oleh komponis dan penulis lagu seperti FX. Sutopo dll. Syair pada lagu bercerita tentang persoalan hidup, tentang lingkungan hidup, keindahan alam. Bimbo, bisa dikatakan sebagai penggebrak “avendgarde” musik puisi di Indonesia. Mereka bekerjasama dengan penyair Taufik Ismail “Dengan puisi aku bernyanyi”. Mereka memberi warna baru, syair-syairnya mengandung perenungan, Ballada, “Kerakap di atas Batu”, “Siapa Bilang Itu yang Bernyanyi” . Kemudian musik Indonesia dikejutkan dengan duo Frenky & Jane yang membawakan lagu musik akustik, country (Ballada), mereka berkerjasama dengan penulis puisi Yudistira Aan Nugroho. Sedangkan pada penyanyi wanita, musik puisi syairnya bercerita tentang alam Seperti Ully Sigar Rusadi (Vicki Vindi Vici), Elly Sunarya, Rita Ruby Hartland “Kepada Alam dan pencintanya”.

Mengenai sejarah musik puisi kita juga harus ingat peran para seniman Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi dengan murid2nya seperti Ebied G. Ade, Emha Ainun Najib, Ragil Suwarna Pragolapati, Deded Er Moerad yang selalu membawa puisi-puisinya dengan musik. Kemudian seniman jalanan di Surabaya seperti Leo Kristi, The Gembel, Gombloh & The Lemon Tree. Di Bandung ada penyanyi bertutur Doel Sumbang, Harry Rusly and the Gank.

Karya-karya puisi yang sukses diblantika musik Indonesia, memiliki ketajaman pada syair, ada yang berirama syahdu, kontemplatif, percintaan, sujud syukur Pada Tuhan atas karunia alam semesta. seperti Ebied G. Ade “Berita Kepada Kawan”, “Untuk Kita Renungkan” Ada pula musik puisi kritik sosial, serta membaca realita kehidupan. Seperti Iwan Fals. Ia pernah musikalisasi puisi karya-karya Ws. Rendra Seperti “Kesaksian”, Musik puisi juga ada yang dilantunkan dengan semangat bravura, coraknya condong ke nafas nasionalisme, Gombloh “Kebyar-kebyar” (sekarang menjadi lagu wajib bersanding dengan lagu nasional lainnya.). Ia juga membawakan lagu dengan bahasa khas wong cilik, bahasa sehari-hari, tentang gelandangan, tukang becak, para pelacur (orang-orang malam), lorong-lorong kumuh dan sumpek. Selain itu Gombloh pernah menyanyikan karya sastra Ronggowarsito “Hong wilaheng”. Sedangkan Leo Kristi pemahaman musik puisinya sangat kritis terhadap lingkungan, ia membicarakan tentang rakyat, tentang penghormatan terhadap tokoh-tokoh pahlawan nasional. musiknya akustik, di tambah variasi-variasi peralatan tradisional yang dimiliki suku-suku di nusantara seperti lagu “Gulagalagu”. Beberapa lagu Doel Sumbang, Harry Rusli memiliki lirik puisi bagus, lebih deskriptif (bercerita panjang lebar) cenderung jenaka.

Musikalisasi puisi juga ada yang tak mampu menembus pangsa lagu-lagu komersil, akan tetapi kehadirannya dapat mengisi blantika musik Indonesia meski tak setenar penyanyi lain. Banyak karya-karya puisi yang coba dimusikalisasikan seperti karya Umbu landu paranggi “Kuda Putih”, “Apa ada Angin di Jakarta”. Antologi puisi Gunawan Muhammad “Parikesit”, Darmanto Yatman, Sapardi Joko Damono “Dukamu Abadi”. karena tingkat kesulitan dalam penyelarasan syair dan musik kekinian. Andaipun bisa menggunakan musik bertutur, atau meminimalis musik (akustik) dan lebih ditonjolkan pada syairnya.

Banyak penyanyi yang mengusung musik puisi karya sendiri atau dari karya penyair lainnya seperti Wanda Chaplin (Papa T. Bob), Toar Tangkau, Bram Kampungan. Boedi Soesatio yang membuat kumpulan Musikalisasi puisinya Emha Ainun Nadjib, Ags Arya Dipayana, Acep Zamzam Noor, Sony Farid Maulana dalam album “Akan Kemanakah Angin”. Hingga di awal tahun 2000 Festifal-festifal musik puisi di selenggarakan di balai budaya maupun di tingkat komunitas-komunitas seni. Mungkin ini salah satu kiat dari para seniman dalam mengenalkan karya-karyanya kepada publik. Imbas dari musik bersyair puitis di blantika musik Indonesia, banyak buku karya sastra lama terbit ulang, di samping itu perburuan buku karya sastra menjadi “trend” di kalangan anak muda.
Pada era sekarang ada beberapa lagu yang penggarapaannya mengutamakan kualitas syair, seperti lagu Katon Bagaskara (KLA Project), Dewa 19, Padi, Melly, Sheila On 7, Debu, Coklat, Letto, Ungu. namun juga ada yang cenderung terispirasi karya sastra. Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Muhammad Iqbal, Jallaludin Rumi, Khalil Gibran. Mereka tidak membawakan karya secara utuh, mengambil sebagian atau pengadaptasian kata dengan musik. Penggarapan musik puisi dengan menggunakan berbagai macam aliaran musik Pop, Dangdut, Qosidah, Rap, Rock. Hal ini tergantung kepiawaian seorang pengaransemen dalam mengemas musik puisi tersebut. Masalah layak dan tidak layak musik itu dikonsumsi dikembalikan pada kritisi penikmat musik itu sendiri.
_________________________
(kiriman; aloeth-pathi)

Sabtu, 20 Maret 2010

Rendra

KANGEN
oleh; W.S. Rendra

kau tak akan mengerti,
bagaimana kesepianku.........
menghadapi kemerdekaan -- tanpa cinta.

kau tak akan mengerti,
segala lukaku.........
karena cinta.........
telah sembunyikan pisaunya.

membayangkan wajahmu,
adalah siksa.

kesepian,
adalah ketakutan dan kelumpuhan.

engkau.........
telah menjadi racun bagi darahku.

apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti.........
aku tungku -- tanpa api.

Selasa, 14 Juli 2009

esthiwi

Mimpi yang Belum Bertepi
oleh;
Esthiwi-Retno-Purnaning


rapuhku,

adalah kesempatan yg tak terelakkan..

kepingan yg belum bisa kembali seperti semula,

hingga gamang tak perlu merengkuhku,

antara dipilih dan memilih,

antara aku, kau dan mereka..

kepada mimpi yang belum bertepi..

Sabtu, 20 Juni 2009

Aulia-Rahmawati

si Gadis-Bidadari
oleh; Aulia-Rahmawati

gadis kecil berlari ikuti arus..
susuri panas dan dinginnya dunia...
dia terus terbang....bagai bidadari....

Jumat, 19 Juni 2009

Yulli Adam Panji Purnama

Galau

Meretas mimpi merajut sepi.

Kegalauan membelenggu malam.

Saat senyummu beku,

dan pandangmu berselimut kabut.

Maafkan aku yang tak dapat memberikan sayap

tuk terbang menggapai bahagia.

Minggu, 24 Mei 2009

Rossa-Rosadi


(solilokui raungan bunga kaktus,'gadis yang entah ketemu')

Katakan sesuatu tentang masa lalu negrimu
Tentang lahirnya dongeng dongeng
Tembang pernikahan kumbang dan putik sari
Tarian pelangi dan selendang bidadari
Aku runtuh padamu...

Perjalananku tak dimulai dengan kata
Seperti jari menari diatas piano
dan sebilah pisau memotong sepuluh jarinya
Kau akan sulit membayangkannya
Aku runtuh padamu..

Lidahku adalah huruf yang terkunci dalam pasungan
meninggalkan lebih banyak yang bukan kata
Bukan lontar berisi ramuan syair memenuhi telingaku
Kenyataanku bukanlah tembang dan lagu-lagu
Aku runtuh padamu..

Kau ingin mengeja garis tangan, apakah aku memilikinya?
Karena sepuluh jari-jariku tertinggal diatas piano tua yang dilukis ayahku
Karena telapakku menjadi alas wajan didapur ibuku
Karena garis menjadi lingkaran besar diseluruh tubuhku
Dimana kau akan membacaku?

Telanjangi aku, maka akan kau baca garis-garis biru dibawah kulitku!
Aku runtuh padamu..

Malibu-CA,23 mei 2009

Rabu, 06 Mei 2009

Munajat--Entis-Sutisna--Percik-Rasa

Munajat
oleh; Entis-Sutisna


Wahai yang meninggikan langit,
Wahai yang menghamparkan bumi,
Wahai yang menegakkan gunung,
Wahai yang menciptakan untaku,
yang terkapardilindas zaman,
dihimpit peradaban,
tersesat di lorong-lorong waktu hitam,
merangkak........
mengetuk pintu-Mu.

Wahai yang menghidupkan yang hidup,
Wahai yang mematikan yang hidup,
Wahai yang menurunkan hujan,
Wahai yang menyalakan api,
Wahai yang menumbuhkan benih,

apakah tangan-Mu mau merengkuhku,
setelah lama lidahku alpa mengeja asma-Mu?
adakah kasih-Mu menyejukkan kalbuku,
setelah lama kukosongkan dari cahaya-Mu?
apakah maghfirah-Mu menyiram tubuhku,
setelah lama kugadaikan pada nafsu hitamku?

Wahai, ......................
aku tahu tak pantas masuk surga-Mu,
namun jangan masukkan aku ke dalam neraka-Mu,
jangan Kau bakar dengan api-Mu.

Wahai yang Maha-Pengampun,
Aku mohon ampunan-Mu.
_____________________________________
May 6, 2009 (dari; 'Percik-Rasa')